Jokowi Dites Jadi Imam Shalat oleh Ketua Muhammadiyah

TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA -- Dua bakal calon presiden, Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, mendapat kesempatan berbicara di depan peserta sidang Tanwir Muhammadiyah di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (24/5).
Kesempatan itu antara lain dipakai untuk menyampaikaan pemikiran mereka dan memberikan klarifikasi terkait kabar-kabar yang menerpa, terutama di dunia maya.
Jokowi, antara lain, mengklarifikasi tentang latar belakang agama dan keislaman keluarganya. "Saya Jokowi. Alhamdulillah saya sudah haji. Bapak saya haji, ibu saya haji, dan adik saya juga sudah haji," katanya.
Jokowi juga menegaskan, kultur budaya Islam melekat dalam keluarganya. Sebagai keluarga yang tergolong 'mampu', Jokowi dan kedua orangtuanya harus berangkat ke Tanah Suci melaksanakan rukun Islam terakhir. "Ya agama itu perlu, jadi kalau mampu harus segera dilengkapi," ungkapnya.
Penegasan ini menjadi penguatan dari siaran pers yang sebelumnya diterima media massa kemarin. Dalam siaran pers itu Jokowi menjawab tudingan miring seperti dituding jadi antek Zionis, Amerika, Tiongkok dan mafia.
Jokowi membantah itu semua. "Jokowi antek Pancasila dan antek rakyat," katanya dalam keterangan persnya, Sabtu (24).
Tak hanya itu, Jokowi yang kerap dituduh anti-Islam pun memberikan jawabannya. "Se­mua orang boleh ragu dengan agamaku tapi saya tidak ragu dengan iman dan imamku dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agamaku," ujarnya.
Jokowi juga menegaskan dirinya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam tapi suka menebar teror dan kebencian. Mantan Wali Kota Solo itu juga mengaku bukan bagian dari Islam yang membawa azas partainya untuk korupsi dan hidup bermewah-mewah.
"Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain. Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang di tangan dan di mulut. Saya Jokowi bagian dari Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di Negara RI yang memegang teguh UUD 45. Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan," tambahnya.
Jadi imam
Dalam sidang Tanwir Mu­ham­madiyah kemarin, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengaku pernah melakukan tes keislaman calon presiden Joko Widodo. Caranya, dengan meminta Gubernur DKI Jakarta itu menjadi imam salat zuhur.
"Saya ajak Pak Jokowi untuk salat zuhur, dan beliau jadi imam, saya sebagai makmum. Bayangkan beliau imam, dan saya pimpinan Muhammadiyah jadi makmum-nya," kata Din.
Menurut Din, Jokowi memiliki pandangan agama Islam yang bagus. Kesimpulan itu diberikan setelah ia mengetes keislaman Jokowi dengan menjadikannya imam salat.
Bahkan Din mengaku tidak bisa berkonsentrasi saat melakukan salat kala itu, karena ia memperhatikan tata cara salat Jokowi, mulai dari takbiratul ikhram hingga salam.
"Salat saya waktu itu sampai tidak khusyuk, karena saya perhatikan benar itu salat Pak Jokowi. Dari niat sampai salam, dan Alhamdulillah semua benar dan tidak ada yang salah dengan beliau," kata Din seraya tertawa diiringi tepuk tangan peserta sidang Tanwir.
Blusukan
Selain ke sidang Tanwir Muhammadiyah, Jokowi juga blusukan ke Pasar Segiri, Samarinda. Ia langsung disambut antusias oleh ratusan pedagang dan pembeli.
Suasana pasar pun heboh dengan kehadiran Jokowi. Sorak -sorai "Jokowi" menyeruak berulang -ulang dari berbagai sudut pasar. Mulai dari kamu ibu, remaja, bahkan bapak -bapak menyempatkan waktu untuk berfoto bersama capres PDI Perjuangan tersebut.
Bahkan, salah seorang pedagang rempah -rempah berhasil meminta Jokowi membubuhkan tanda tangan di baju yang sedang dikenakannya.
"Harga telur berapa? stabil nggak? bagaimana jualan disini, lancar nggak?," kata mantan walikota Solo ini kepada salah seorang pedagang.
Usai mengitari lorong-lorong di lantai satu yang didominasi pedagang sembako, daging dan ikan tersebut, tiba -tiba pedagang di lantai dua pasar yang terdiri dari antara lain penjual pakaian dengan kompak menyerukan "Naik-Naik -Naik".
Permintaan itu direspon Gubernur DKI Jakarta ini dengan langsung menemui warga. Namun, melihat kehadiran Jokowi di lantai 2, pedagang di lantai 3 juga tak mau kalah. Mereka minta Jokowi naik lagi ke lantai 3. li tidak mau ketinggalan dan menyerukan "Naik—Naik—Naik" dan seperti sebelumnya, hal itu langsung direspon Jokowi dengan langsung menemui pedagang.
Salah seorang pedagang, Arsyad mengaku sangat senang bisa bertemu langsung dengan Jokowi. Ia berharap, jika terpilih kelak Jokowi tidak melupakan nasib para pedagang kecil dimana pun berada.
"Kami pedagang-pedagang kecil ini cukuplah diperhatikan. Bagaimana nasibnya, bagaimana kesejahteraan, bagaimana pendapatan bisa meningkat. Kalau menurut saya, beliau itu orangnya sederhana, jujur, mulai kami kenal itu mulai dari walikota, sampai naik gubernur DKI. Mudah -mudahan dia naik lagi jadi Presiden," Arsyad, pedagang cabai di Pasar Segiri.
Selain ke pasar, Jokowi juga menyambangi kediaman Ketua MUI Provinsi Kalimantan Timur, KH Hamri Has di Jl Angklung, Prevab Samarinda. Obrolan hangat seputar Kalimantan khususnya Kaltim mengalir antara Hamri dengan capres yang di usung PDI Perjuangan ini.
Dalam kesempatan tersebut, Hamri juga berseloroh apakah Jokowi ada melirik putra Kaltim untuk duduk di kabinet. Mengingat hingga kini, belum ada putra Kaltim yang menurut Hamri bisa bersinar di kancah nasional.
Obrolan hangat juga mengalir seputar pemindahan ibukota Republik Indonesia ke Pulau Kalimantan. Pertemuan singkat tersebut di akhiri dengan doa bersama. (warta kota cetak)

ads

Ditulis Oleh : Den Triway Hari: 8:21 PM Kategori:

1 komentar:

  1. kenapa harus jelekan capres sih,sama saja kok semua manusia tanpa daya

    ReplyDelete

Alangkah tidak berkesannya jika anda sudah mampir tetapi tidak meninggalkan komentar atau ucapan apa-apa.

 

Teman Blog

Profil

My photo

Mari berlari dengan kekuatan kaki,
Mari bernyanyi dengan kekuatan Hati.

Jualan Online